Rabu, 10 Februari 2010

Benjolan dileher, apa saja kemungkinan penyebabnya ?

Seringkali kita dihadapkan pada bayi atau anak-anak yang datang dibawa oleh orang tuanya ketempat praktek dengan benjolan pada leher.
Catatan dibawah ini mungkin bisa sedikit membantu memilah beberapa penyebab.

Definisi.
Pada anak-anak sering timbul benjolan atau pembengkakan pada leher. Sebagian besar dari massa ini merupakan lesi jinak yang tidak memerlukan pengobatan. Berhubung rendahnya risiko keganasan dan ansietas kedua orang tuanya, maka diagnosis dan pengobatan yang akurat menjadi yang esensil.
Diagnosis deferensial.
Faktor kunci pada penegakkan diagnosis benjolan pada leher adalah lokasinya, fisiknya secara alamiah, umur pasien, gejala yang berkaitan.
1. Massa digaris tengah. Limfadenopati, Kista duktus tiroglosus, kista dermoid, nodule tiroid
2. Segi tiga anterior. Limfadenopati, kista brankialis kleft, tumor kelenjar liur atau kista
3. Segi tiga posterior. Limfadenopati, metastase tumor, kista bronkogenik
Limfadenopati
Pembesaran kelenjar getah bening (pembengkakan kelenjar), paling sering dijumpai berupa benjolan pada leher ukurannya bervariasi mulai dari pembengkakan yang bisa diraba sampai beberapa cm diameternya.
1. Limfadenopati yang mungkin bisa terjadi dilokasi manapun. Lokasi yang paling sering adalah anterior dari otot sternokleidomastoideus dibawah sudut mandibula dan dibelakang telinga
2. Infeksi biasanya merupakan penyebab dari limfadenopati, sering oleh virus faringitis yang menyebabkan pembesaran “tonsilar” node di bawah sudut mandibula. Kelenjar getah beninbg ini jarang suppurasi, tetapi pembesaran KGB nya sampai beberapa bulan
3. Acute suppurative submandibular lymphadenitis disebabkan oleh infeksi stafilokokus atau streptokokus
a. Temuan klinis. Limfadenitis supurativa sering ditemukan pada anak 6 bulan sampai 3 tahun. Pembesaran KGB biasanya didahului oleh faringitis atau infeksi saluran nafas atas. Anak tampak sakit, demam, dan iritable. Pembesaran KGB tiba-tiba, eritema, terasa nyeri, dan berkembang jadi selulitis pada bagian bawah dagu, bila jadi abses maka akan ditemukan fluktuasi.
b. Patofisiologi. Tidak diketahui dengan pasti mengapa kelenjar submandibula kebanyakan cenderung menjadi infeksi piogenik. Sebelum faringitis streptokokus, hanya kadang-kadang timbul
c. Penatalaksanaan. Pemberian antibiotik; ampisilin 25 mg/kgBB qid. Sering kali pada banyak kasus berubah menjadi abses. Adanya tanda fluktuasi merupakan indikasi dilakukan drainase bedah. Insisi dan drainase dilakukan dengan menggunaka sedasi dalam tetapi bisa juga dilakukan tanpa pembiusan. Luka bedah dibalut tekan untuk hemostasis dan memungkinkan jaringan menyembuh dari dalam, dilakukan sekitar seminggu. Kekambuhan jarang terjadi.
4. Limfadenitis kronis. Pembesaran KGB yang menetap, lama setelah bukti-bukti adanya infeksi menghilang. Keadaan ini sering sekali dijumpai. Bisa disebabkan oleh infeksi banal maupun spesifik (limfadenitis tbc)
a. Limfadenitis kronis oleh infeksi banal
i. Klinis. Sering dijumpai “tonsillar nodes” . kemungkinan sebelumnya di dapati riwayat faringitis atau ISPA yang disertai pemebsaran KGB yang kemudiqan menetap setelah infeksinya berlsalu. KGB ini biasanya soliter, tidak nyeri, mudash digerakan, dan lunak.
ii. Patofisiologi. Pemeriksaan histopatologi didapati gambaran “ reactive hyperplasia” pada biopsinya
iii. Penatalaksanaan. Tidak diperlukan terapi apapun bila ukuran diameternya < 1 cm dan asimptomatik. Banyak pembesaran KGB kronis menghilang sendiri. Beberapa dilakukan biopsi.
b. Limfadenitis kronis tuberculose. Biasanya sekunder dari infeksi paru-paru. Di Indonesia sering kali dijumpai (endemis). Infeksi bisa juga disebabkan oleh mycobacterium atipik yang masuk melalui faring (jarang di Indonesia)
i. Klinis. Tidak ditemukan riwayat sakit sebelumnya, tidak ada demam maupun leukositosis, nodul membesar tetapi tidak disertai rasa nyeri atau tanda inflamasi. Setelah beberapa minggu, nodule mengalami degenerasi membentuk “cold absces”, bila tidak diobati, maka akan terdrainase spontan dan terbentuk sinus. Test PPD kulit mungkin positif atau negatif.
ii. Patofisiologi. Reaksi granulomatosa dari KGB tipikal oleh tbc
iii. Penatalaksanaan. Kuratif dilakukan eksisi dan terapi anti tbc
c. Penyakit Hodgkin. Sangat jarang ditemukan pada anak-anak pra-sekolah, tetapi frekwensi nya meningkat pada umur belasan dan dewasa muda, sering berupa “solid tumor”. Hampir 1 dalam 100 kasus pembesaran KGB, merupakan keganasan. Hal ini mungkin menyebabkan ketakuan pada para orang tua.
i. Klinis. Ada beberapa karakteristik yang merupakan indikasi adanya perubahan ganas pada KGB.
1. Tumbuh terus menerus melampaui periode beberapa minggu
2. Tanda lokal; tidak disertai rasa nyeri, kemerahan atau fluktuatif
3. Bisa ditemukan pembesaran beberapa KGB, atau single
4. Kehilangan berat badan, demam malam hari, dan malaise tanpa adanya tanda-tanda infeksi, lebih lanjut harus dicurigai adanya malignansi
ii. Patofisiologi. Penyakit Hodgkin mungkin merupakan kelompok beberapa KGB leher pada sisi yang sama, tetapi sering bilateral atau berkembang di mediastinum atau abdomen.
iii. Penatalaksanaan. Penatalaksanaan primernya dengan kemoterapi dan radiasi. Diagnosis ditegakkan dengan biopsi.
Biopsi pada limfadenitis kronis. Kebanyakan pembesaran KGB tidak dilakukan pembedahan. Biopsi mungkin harus dikerjakan bila diagnosis tidak bisa ditegakkan. Pada banyak kasus, pembengkakan akan hilang dalam 6 minggu, dan menunggu dalam beberapa lama tidak akan memperburuk keadaan bila ternyata kelainan ini adalah Penyakit Hodgkin.
Indikasi eksisional biopsi pada pembesaran KGB leher
1. Nodule berukuran diameter ≥ 2 cm, dan tetap ada selama ≥ 6 minggu
2. Nodule berukuran diameter ≥ 2 cm, yang tumbuh cepat dan terus membesar dalam 2 – 3 minggu
3. Teraba keras, melekat dan tidak nyeri
5. Kista duktus tiroglosus (KDTG)
a. Etiologi. Kista duktus tiroglosus teerjadi akibat kegagalan obliterasi dari duktus tiroglosus setelah penurunan tiroid pada minggu ke 6 umur gestasi
b. Klinis. Jarang di ketemukan pada masa bayi. Di temukan sering pada masa kanak-kanak dini, berupa massa kistik di garis tengah atau drainase melalui sinus. Mungkin juga tidak tampak sampai begitu ada infeksi dengan abses baru muncul. Kista terletak di tengan atau dekat dengan garis tengah, biasanya “overlying” dengsan ossa hyoid, lebih mendekati dagu atau mungkin juga lebih mendekati sternum. Adanya protrusi lidah menandakan adanya bertumbuhnya massa.
c. Patofisiologi. KDTG, berhubungan dengan rongga mulut, memudahkan bakteri menginfeksi kista. Kista dan duktus dilapisi oleh “stratified squamous atau pseudostratified columnar epithelium dan kelenjar sekresi yang memproduksi mukus. Mungkin terdapat kelenjar gondok ektopik
d. Penatalaksanaan. Dilakukan eksisi dengan mengangkat massa nya dan sekalian mencegah kambuhnya infeksi
i. Bila kista sudah terinfeksi, berikan antibiotik. Biasanya memungkinkan untuk eradikasi infeksi, memungkinkan pembedahan di tunda dalam keadaan tidak sedang infeksi
ii. Pra-bedah dilakukan tiroid-scan
iii. Bagian tengan ossa hyoid harus dipotong diangkat bersama kistanya dan duktusnya sqampai ke foramen os hyoid. Kegagalan mengangkat badian tengan os hyoid, banyak menyebabkan banyaknya kasus residif
6. Nodul tiroid. Nodul pada tiroid harus dipikirkan pada diagnosis deferensial bila massa terletan”low anterior” leher. Dianjurkan untuk di buat tiroid scan.
7. Kista celah brankial.
a. Etiologi. Kelianan dari penutupan dan resorpsi dari celah brankial primitif dan lengkung insang nya memberi kemungkinan timbulnya kista, sinus dan massa.
b. Klinis.
i. Sinus celah brankialis. Sinus akan tampak sebagai lubang muara pada kulit di angulus mandibula (celah brankial- 1) atau sepsanjang tepi anterior m. sternokleidomastoid (celah brankial-2). Sinus dari celah ke-2 lebih sering dijumpai dan mengeluarkan air liur
ii. Kista celah brankial. Timbul pada tempat yang sama dengan sinus, tetapi mungkin sulit dibedakan dengan pembengkakan KGB atau benjolan leher lain, terutama bila terinfeksi. Kista celah brankial perta jarang ditemukan.
iii. Sisa arkus brankialis. Kecil, berupa massa kartilago terletak subkutis terletak bisa dimana saja disepanjang tepi anterior otot sternokleidomastoid atau didepan telinga.
c. Patofisiologi. Sinus celah brankial merupakan sisa embriologis yang terbuka keluar tubuh, sedangkan bila tertutup maka akan membentuk kista.
i. Celah brankial pertama meerupakan kelainan yang berhubungan dengan kanalis auditorius eksterna dan berdekatan dengan nerves fasialis
ii. Kista celah brankial kedua dan sinsus nya berhubungan fossa tonsilaris, melewati bifurkasio arteri karotis dan keluar disepanjang tepi anterior muskulus sternoklleidomastoideus
iii. Infeksi berasal dari masuknya kuman melalui kanalis auditorius eksternus atau dibawa masuk ke dalam kista bersama saliva dari faring.
d. Penatalaksanaan. Sisa brankial harus dibuang astas indikasi kosmetis dan untuk mencegah terjadinya infeksi. Bila kista terinfeksi, harus diberikan antibiotik sebelum dilakukan pembedahan. Selama pembedahan ,diseksi harus dilakukan sedekat mungkin dengan sepanjang “track” sinus u tuk mencegah terjadinya cedera pada saraf dan pembuluh darah.
8. Kista dermoid. Termasuk kista - kista berisi kelenjar sebaseus dan folikel rambut. Kista epidermoid tidak memiliki komponen terswebut. Keduanya berisi material sebasea.
a. Etiologi. Kisata dermoid dan epidermoid timbul dari elemen ektodermal dibawah permukaan kulit selama fusi embryogenik.
b. Klinis.
i. Kista dermoid banyak teredapat di ujung lateral alis (angular dermoid)
ii. Kista epidermoid sering ditemukan digaris tengah leher, sehingga sulit dibedakan dengan kista duktus tiroglosus. Bisa timbul dimana saja
c. Penatalaksanaan. Kista harus diangkat karena cenderung untuk membesar. Jarang terjadi infeksi.
9. Tumor kelenjar liur. Tumor kelejar liur sangat jarang ditemukan pada anak-anak, tetapi mempunyai bentuk lesi yang bervariasi, bisa bersifast jinak dan yang ganas. Pada bayi sering ditemukan hemangioma jinak atau limfangioma dari kelenjar parotis yang merupakan neoplasma solid seperti yang terdapat pada anak-anak. Sebagian neoplasma solid pada kelenjar liur merupakan neoplasma ganas.
a. Hemangioma merupakan tumor kelenjar liur yang paling banyak, yang secara eksklusis banyak dijumpai pada bayi
b. Pada pemeriksaan; ditemukan tanda fluktuatif, lunak, massa yang asimtomatik pada kelenjar parotis.
c. Pertumbuhan tumor biasanya meningkat pada umur 12 – 18 bulan dan secaqra spontan akan mengalami involusi yang terjadi sampai umur 5 tahun
d. Diagnosis biasanya bisa ditegakkan secara klinis, tetapi biopsi dilakukan bila klinis meragukan.
e. Penatalaksanaan. Pemberian steroid mungkin bisa menghentiukan pertumbuhannya dan mempercepat involusi. Diberikan prednison 1 mg/kgBB/hari selama 6 minggu. Radioterapi tidak efektif. Pembedahan tidak diindikasikan pada lesi jinak ini, karena tingkat kesulitan pembedahannya dan risiko akan terjadinya cedera pada nerves ke-7. Eksisi diindikasikan untuk sisa deformitas setelah involusi spontan.
10. Limfangioma. Termasuk higroma kistik dari parotis atau kelenjar submaksiler yang lebihn jarang dibanding hemangioma tetapi sering kali dikelirukan antara keduanya.
a. Limfangioma biasanya akan tampak pada saat lahir dan akan cepat membesar pada beberapa bulan pertama. Bisa juga terjadi hemelimfangioma.
b. Tidak seperti hemangioma pada limfangioma harus egera dieksisi sedini mungkin sebelum menjadi lebih besar dan memerlukan insisi dan deseksi lebih luas. Sedapat mungkin menyelamatkan nerves fasialis karena ini merupakan lesi jinak.
11. “Mixed tumor” (adenoma pleomorfik) sering ditemukan sebagai tumor jinak yang solid dari kelenjar liur
a. Secara tipikal timbul setelah umur tahun ke 7 sebagai massa kerad yang asimtomatik dan tumbuhnya lambat
b. Kelenjar Parotis merupakan asal dari 90% mixed tumor.
c. Penatalaksanaanya adalah eksisi luas dari tumor, dengan perhatian untuk menyelamatkan nerves fasialis. Kemoterapi dan radiasi tidak efektif
d. Residifitas pasca reseksi bukannya tidak biasa, terutama bila tidak dikerjakan eksisi luas
12. Tumor jinak yang lain
a. Hemangioendotelioma
b. Limfoepitelioma
c. Cystadenoma
d. Neuroma
e. Lipoma
13. Karsinoma mukoepidermoid, merupsaakan tumor ganas yang paling sering ditemukan pada anak, hampir sesering “mixed tumor”
a. Tumor ini sulit dibedakan dengan mixed tumor
b. Angka kesembuhan pasca eksisi nya sangat tinggi, karena sangat jarang bermetastase jauh
14. Tumor-tumor ganas lainnya, termasuk karsinoma sel asinar, karsinoma anaplastik, adenokarsinoma, dan berbagai variasi sarkoma. Banyak sekali pasien-pasien dengan tumor ini prognosisnya buruk walaupun sudah dilakukan eksisi radikal
15. Penyakit kelenjar liur non-neoplastik
a. Parotitis epidemika. Pembengkakan difus, nyeri, tampak sakit berat, amilase meningkat
b. Batu saluran kelenjar liur. Dicurigai bilamana terdapat sialodenitis berulang. Diagnosis ditegakan bilamana adanya kalsifikasi pada foto polos. Diperlukan sialografi.
16. Indikasi pembedahan. Diindikasikan untuk hampir semua tumor pada kelenjar air liur. Pembedahan ini merupakan terapi kuratif untuk hampir kebanyakan lesi jinak dan ganas kelenjar liur. Bila diagnosis masih diragukan, dilakukan biopsi. Bila akan dilakukan eksisi radikal termasuk mengangkat neves fasialis, maka pemeriksaan histopatologi definitif harus dilakukan sebelumnya
17. Miscellaneous neck masses
a. Higroma kistik. Melekat erat, lunak, masa kistik pada leher pada bayi baru lahir
b. Kista bronkogenik
i. Etiologi. Kista bronkogenik timbul dari forgut. Banyak kista bronkogenik ditemukan pada rongga dada, salah satunya berekembang dileher. Secara histologis kista di servikal sulit dibedakan dengan kista di toraks. Dindingnya berisi tulang rawan, kelenjar mukous, jaringan elastik, dan otot polos
ii. Temuan klinis. Licin, pembengkakan globuler disebelah anterior atau dibagian sebelah dalam otot sternokleidomastoideus. Kista bisa membesar ≥5 cm. biasanya asimtomatis, tetapi bisa juga terjadi disfagia akibat kompresi kista terhadap esofagus. Pada pemeriksaan sonografi atau CT scan didapati adanya dinding kista yg tebal.
iii. Penatalaksanaan. Eksisi kuratif
c. Tumor jaringan lunak. Tumor jinak maupun ganas bisa berkembang dari jaringan lunak pada leher dan timbul sebagai tumor asimtomatik. Rabdomiosarkoma paling sering ditemukan pada leher. Bisa juga berupa Lipoma, fibroma, neurofibroma, fibrosarkoma, liposarkoma, neurofibrosarkoma, tetapi sangat jarang
d. Metastase tumor. Neuroblastoma meerupakan tumor yg sering bermetastase ke leher pada anak. Bila tumor terdapat di segi tiga posterior atau supraklavikula, tumbuh dengan cepat, maka harus dicurigai adanya tumor metastase. Diindikasikan untuk biopsi
e. Tortikolis. Teraba sebagai pada keras, terdapat pada otot sternokleidomastoid pada bayi baru lahir.

14 komentar:

Tirta Voda Kalasnikov mengatakan...

Salam Kenal Dok, Nama Saya Tirta. Saya ingin sekali mengetahui informasi mengenai hemangioendotelioma. Putri saya saat ini berusia 4 bulan. Di diagnosa hemangioendotelioma of parotid gland. Pada bagian sebelah kanan pipinya. saya mulai melihat pembengkakan pada pipinya pada usia 2 bulan. Dan ada kemerahan seperti jaringan kulit, sangat jelas kelihatan bahkan pada saat usianya masih 7 hari. saat ini saya bingung harus berobat kemana. saya mencari kasusnya melalui internet di indonesia tp baru ini saya menemukan tulisan Dokter yang menjelaskan tentang hal tersebut. Yang saya dapat dari Jurnal kedokteran dari luar negeri, penyakit ini akan sembuh sendiri. Tp ada juga yang melakukan bedah. Saat ini pipinya sudah kelihatan bengkak dan membesar yang membuat saya sangat kwatir. Saya berada di Banda Aceh. Kiranya dokter bisa membantu memberikan informasi pengobatan dan mengarahkan kemana harus saya bawa. Saya sangat mengharapkan informasinya. Terima Kasih Dok.

Salam

teerta@gmail.com

Bedah Anak-RSUD AWS mengatakan...

Salam kenal kembali, sebelumnya saya mohon maaf karena lama baru saya buka kembali blog ini
HEMANGIOENDOTHELIOMA adalah suatu neoplasma (tumor )
Noplasma ini merupakan bentuk lesi angiomatosa jinak yang mempunyai sifat ganas. Hemangioendothelioma ini mempunyai sifat peralihan antara hemangioma jinak dan angiosarkoma anaplastik yang ganas.
Saluran vaskuler pada hemangioendothelioma biasanya menyusup diantara massa sel endothel yang berproliferasi dengan jelas dan berdeferensiasi baik, yang pada angiosarkoma bisa tidak tampak. Jadi angiosarkoma tersusun dari massa sel anaplastik (ganas/potensial ganas) lonjong dengan penyebaran kasar. Cenderung membentuk massa solid yang besar.
Rangsang kronis bahan senyawa arsen atau polivinilklorida (digunakan dalam industri plastik) menimbulkan predisposisi pertumbuhan neoplasma jenis ini di dalam hati.
Anjuran saya, oleh karena sifatnya yg "border line" sebaiknya dipersiapkan untuk dilakukan pembedahan dengan mengambil seluruh jaringan tumornya.
Di Aceh memang belum ada spasialis bedah anak, yang ada orang aceh yang bertugas di medan yaitu:
Dr Djenny SpB-SpBA
hp 081375185000, silahkan ibu menghubungi beliau untuk dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan yang diperlukan, serta membuat rencana tindak lanjutnya sesuai dengan keadaan anak ibu.
Semoga bermanfaat.
wassalam
(kami yang lemah)

strezer's mengatakan...

Mohon infonya dok.
Saya mempunyai bayi usia 6 bulan.
Ada benjolan di lehernya di bagian belakang telinga kanan.
Untuk seusia bayi saya, kemungkinan-kemungkinan apa sajakah yg diderita bayi seusia anak saya.
Hal ini baru diketahui 2 hari kemarin.

Terima kasih atas perhatiannya.

strezer's mengatakan...

Mohon infonya dok.
Saya mempunyai bayi usia 6 bulan.
Ada benjolan di lehernya di bagian belakang telinga kanan.
Untuk seusia bayi saya, kemungkinan-kemungkinan apa sajakah yg diderita bayi seusia anak saya.
Hal ini baru diketahui 2 hari kemarin.

Terima kasih atas perhatiannya.

mamah fauzan mengatakan...

slm kenal dok...
saya mamah fauzan, mohon bantuan nya. anak saya berumur 3 thn,minggu kmrn demam + ada herpes di pinggir bibir, disertai bengkak di leher.setelah demam trn,herpes nya smbh.bengkak di daerah leher jg jd mengempis.tp skrng ada benjolan krng lebih berdiameter 3 cm,warna nya kemerahan di pegang lunak.trus anak mengeluh skt di bagian yg bengkak itu.setelah berobat lgi dokter mengatakan penyakit nya itu abses.penyakit abses itu apa? apakah berbahaya...trus klo bengkak nya tidak mengempis jg, apa yg hrs saya lakukan??Kiranya dokter bisa membantu memberikan informasi pengobatan dan mengarahkan kemana harus saya bawa. Saya sangat mengharapkan informasinya. Terima Kasih Dok.

terima kasih. saya tunggu jawaban nya.

handik wijaya mengatakan...

salam kenal dok, saya handik wijaya dari surabaya.Saya mempunyai bayi yg baru lahir dan saat ini usia 1 bln.pada bagian leher sblh kiri sampai bwh telinga koq ada benjolan yg lumayan besar.Anak saya tidak mengalami ksakitan ataupun demam dan tidak rewel.Cuma sbg ortu sy sgt khawatir!Saya bingung hrs bgmn,dan sy hrs kemana utk mengetahui benjolan apa pada bayi sy! mhn bantuannya!thx

Bedah Anak-RSUD AWS mengatakan...

buat strezer :
sorry lama baru saya buka lagi blog ini, mohon maaf.
Benjolan di belakang telinga pada bayi paling sering karena adanya infeksi di sekitar kepala. Benjolan ini akibat membesarnya kelenjar getah bening akibat adanya serangan infeksi. Mulai bayi berumur >3 bulan (mulai kontak dg dunia luar)maka banyak serangan-serangan bakteri dan virus menyerang tubuhnya. Sebagai reaksi pertahanan tubuh, maka semua sistim pertahanan di aktifkan, salah s atunya pembesaran kelenjar getah bening tersebut (normalnya memang sudah ada, tetapi tidak membesar). Anjuran saya cari sumber infeksinya, jaga kebersihan, mungkin perlu pemberian anti biotik oleh dokter, observasi dalam 2-4 minggu. bila disebabkan oleh bakteri yg biasa, maka benjolan akan menghilang dalam 2-4 minggu. Bila tidak menghilang tentunya perlu dilakukan biopsi untuk menentukan penyebab.

Bedah Anak-RSUD AWS mengatakan...

mama fauzan:
Mohon maaf lahir batin karena saya terlambat membuka blog, sehingga tidak segera merespon ibu. Kemungkinan besar ini abses dari kelenjar getah bening leher akibat infeksi yg berlanjut. Anjuran bawa ke dokter bedah untuk dilakukan pengeluaran nanahnya.

Bedah Anak-RSUD AWS mengatakan...

Bp Handik Wijaya :
Mohon maaf karena sangat terlambat memberi respon pada masalah anak bapak.
Kemungkinan ini kelainan yg disebut :"torticolis", suatu pembesaran otot leher.
Biasanya kepala akan tertarik ke sisi leher yg sakit. Bila memang ini torticolis maka, agar tidak terlanjur "menceng" sebaiknya bawa berobat ke dokter bedah untuk penilaian awal, biasanya akan dirujuk ke rehabilitasi medik 80%-90% membaik. Tq

Bedah Anak-RSUD AWS mengatakan...

buat strezer :
sorry lama baru saya buka lagi blog ini, mohon maaf.
Benjolan di belakang telinga pada bayi paling sering karena adanya infeksi di sekitar kepala. Benjolan ini akibat membesarnya kelenjar getah bening akibat adanya serangan infeksi. Mulai bayi berumur >3 bulan (mulai kontak dg dunia luar)maka banyak serangan-serangan bakteri dan virus menyerang tubuhnya. Sebagai reaksi pertahanan tubuh, maka semua sistim pertahanan di aktifkan, salah s atunya pembesaran kelenjar getah bening tersebut (normalnya memang sudah ada, tetapi tidak membesar). Anjuran saya cari sumber infeksinya, jaga kebersihan, mungkin perlu pemberian anti biotik oleh dokter, observasi dalam 2-4 minggu. bila disebabkan oleh bakteri yg biasa, maka benjolan akan menghilang dalam 2-4 minggu. Bila tidak tentunya perlu biopsi untuk menentukan penyebab.

citra arief mengatakan...

siang dok
saya mau bertanya kalau benjolannya di bagian leher sebelah kiri dan belakang kuping apa indikasinya ya?tq

trivia mengatakan...

trivia
salam kenal dok
anak saya skrg berumur 2 thn. pd saat umur 10 bln, dibagian leher belakang dekat telinga sebelah kanan terasa ada benjolan sebesar kacang. sampai skrg benjolan tersebut tetap ukurannya. hanya saja, sekarang disebelahnya terasa benjolan lain yang lebih kecil. kira-kira penyakit apa ya dok?? mohon penjelasannya. thx..

trivia mengatakan...

trivia
salam kenal dok
anak saya skrg berumur 2 thn. pd saat umur 10 bln, dibagian leher belakang dekat telinga sebelah kanan terasa ada benjolan sebesar kacang. sampai skrg benjolan tersebut tetap ukurannya. hanya saja, sekarang disebelahnya terasa benjolan lain yang lebih kecil. kira-kira penyakit apa ya dok?? mohon penjelasannya. thx..

ellita fauziyah mengatakan...

Salam kenal dok,
Anak saya umur 2 bulan,ada benjolan fi leher sebelah kanan.kalau diraba keras dan agak memanjang seperti ada tulangnya.sedangkan di leher sebelah kiti tidak ada hal tersebut. Anak sats tidak rewel atau kliatan kesakitan kl benjolan tersrbut diraba. Mohon informasinya kira2 kenapa dengan anak saya dan ke dokter apa saya harus memeriksakannya. Terima kasih banyak.